Monday, November 5, 2012

Pendidikan Jarak Jauh - Tugas 2

TUGAS TOPIK-2

Original post was on 27 October 2012


1.      Jelaskan tiga aspek utama dalam pembelajaran di PJJ!
Ada tiga aspek utama dalam pembelajaran di perkuliahan jarak jauh (PJJ), yaitu:
a.      Terpisahnya si pengajar da peserta didik
Maksudnya adalah ada keterbatasan ruang dan waktu antara dosen dan mahasiswa. Kalau kelas reguler menerapkan sistem tatap muka ketika pembelajaran sedang berlangsung dan harus didalam satu ruangan, maka PJJ adalah sebaliknya. Tidak perlu bertatap muka secara langsung, dimanapun mahasiswa dan dosen berada asalkan ada media yang mempersatukan mereka untuk menjalakan kegiatan belajar mengajar maka PJJ bisa dilaksanakan.
b.      Mandirinya peserta didik
Dalam PJJ, mahasiswa memang dituntut untuk mandiri. Sugilar (2000) menjelaskan bahwa makin tinggi kendali mahasiswa atas pembelajaran yang sedang dijalaninya, dan dengan sendirinya kesiapan untuk belajar mandiri makin tinggi pula. Ini mengacu pada sistem PJJ sendiri yang kendalinya ada di tangan mahasiswa sendiri. Tidak terus menerus ‘disuapi’ dosen, tetapi  kebabasan dalam PJJ harus dimanfaatkan mahasiswa untuk mencari dan menggali ilmu yang ada terlepas dari sumber yang diberi dosen. Beberapa poin juga menjadi faktor pendorong mahasiswa agar bisa belajar mandiri, seperti kesiapan mahasiswanya sendiri, sikap, dan persepsi masing-masing mahasiswa.
c.       Tutorial
Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), tutorial berarti pembimbingan kelas oleh pengajar untuk seorang mahasiswa atau sekolomppk kecil mahasiswa. Dalam tahap ini, mahasiswa mendapat haknya sebagai pengajar untuk mendapatkan layanan belajar atau tutorial dari dosen terkait, baik itu bersifat akademik ataupun non-akademik. Kesuksesan mahasiswanya sendiri memang tidak terpaku pada kemandirian mahasiswa sendiri, karena sesungguhnya mereka juga butuh interaksi yang akan memotivasi mereka.
  
2.      Jelaskan lima generasi pada tutorial jarak jauh!
a.      Generasi Pertama: Model Korespondensi
Pada generasi ini memang lebih mengandalkan kepada bahan ajar cetak, baik itu buku atau modul. Isi buku itu juga bisa berupa bahan atau materi pokok pembelajaran. Karena masih generasi pertama, penggunaan teknologi pun tergolong belum ada. Jadi sistem surat-menyurat masih berlaku dan dilakukan pada generasi ini.
b.      Generasi Kedua: Model multimedia
Penggunaan audio dan visual sudah mulai dikembangkan yang melengkapi bahan ajar cetak, contohnya saja kaset, CD, atau video interaktif. Kelebihan dari model multimedia ini adalah peserta didik bisa mendengar atau bahkan melihat si pengajar, hanya saja tidak ada interaksi langung. Juga, model ini bisa di akses dimanapun dan kapanpun mereka mau.
c.       Generasi Ketiga: Metode belajar jarak jauh
Perkembangan teknologi pun semakin pesat, yang tadinya hanya bisa mendengarkan dan melihat sekarang sudah bisa berkomunikasi jarak jauh. Metode ini juga termasuk siaran TV dan Radio yang biasa disiarkan secara live.
d.      Generasi Keempat: Metode belajar flexibel
Pembelajaran via internet sudah bisa dilakukan pada generasi keempat. Mengakses bahan ajar, komunikasi via komputer dengan flexibilitas waktu dan tempat adalah keuntungan yang bisa diambil pada generasi ini.




e.       Generasi Kelima: E-Learning
Pemanfaatan tiga fasilitas yang ada pada generasi sebelumnya dengan dilengkapi komunikasi menggunakan komputer. Adanya server yang bisa menyimpan bahan ajar, mahasiswa kapanpun bisa memprosesnya dengan internet.

3. Secara umum, coba jelaskan perbedaan antara Tatap Muka dan PJJ!
Secara umum memang terlihat jelas perbedaan antara sistem pembelajaran tatap muka dan PJJ, antara lain:
Tatap Muka
PJJ
 1.Sistem belajar yang mengharuskan mahasiswanya hadir untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar
1.      1.Tidak terpaku pada kehadiran dalam suatu ruangan
        2. Waktu kegiatan belajar mengajar yang cukup menyita waktu, antara 4-8 jam.
2. Fleksibilitas tinggi dalam waktu pembelajaran
     3. Jumlah siswa terbatas, tergantung kelas yang disediakan oleh Instansi pendidikan.
3. Jumlah mahasiswanya tidak terbatas (massal), bisa siapapun asalkan terdaftar dalam lembaga terkait.

Pendidikan Jarak Jauh - Tugas 1

Tugas 1 : Rangkuman Topik 1
Original post was on 27 October 2012

PJJ atau Pendidikan Jarak Jauh adalah suatu sistem pembelajaran yang mahasiswa dan dosennya tidak berinteraksi secara face-to-face, melainkan memanfaatkan penggunaan media yang memungkinkan mereka tetap berinteraksi bertukar pemikiran mengenai sesuatu hal. Adapun beberapa hal yang membuat mahasiswa dan dosen menggunakan metode atau sistem pembelajaran jarak jauh ini, antara lain karena sudah majunya teknologi, informasi, dan komunikasi di dunia. Pemanfaatan kecanggihan teknologi ini memang berdampak cukup signifikan untuk mendapatkankan informasi dan pembelajaran.
Sebenarnya, sistem PJJ ini tidak difokuskan pada timbal balik informasi antara dosen dan mahasiswanya saja, tetapi bagaimana si mahasiswanya bisa mencerna dan mengaplikasikan informasi yang mereka terima di kehidupan nyata. Walaupun pembelajarannya berada di dunia maya, mereka harus menerapakannya di dunia nyata untuk mendapatkan pengalaman baru. Bagusnya lagi, dari metode pembelajaran jarak jauh ini adalah bisa terjangkaunya ke daerah-daerah pelosok dalam konteks ini, Indonesia. Indonesia memang kaya akan kepulauan, daerah-daerah terpencil mungkin akan sulit untuk dijangkau oleh pengajarnya, maka apabila penerapan PJJ ini dilaksanakan mungkin saja bisa mengurangi masalah pendidikan yang ada saat ini tanpa menyulitkan tenaga pengajar. Ada beberapa hal yang mencirikan PJJ, yang pertama jelas terpisahnya ruang dan waktu antara si dosen dan si mahasiswanya. Akan tetapi, mereka bisa dipersatukan untuk melakukan kegiatan belajar-mengajar dengan adanya media. Sesekali sosialisasi dan pertemuan antara kedua belah pihak memang diperlukan, entah untuk melakukan tutorial ataupun interaksi lainnya.
Dengan kemudahan belajar seperti ini tentu saja mahasiswa dan dosen-pun bisa sambil mengerjakan banyak hal karena waktu yang relatif bebas bisa mengakses bahan belajar kapanpun dengan mempertimbangkan beberapa hal. Pertama adalah menajaga interaksi tetap berjalan lancar antara mahasiswa dan dosen agar sistem pembelajaran masih dapat dilakukan. Kedua adalah keaktifan mahasiswa yang sudah mendapatkan bahan ajar didunia maya dan mengaplikasikannya di dunia nyata. Karena sistem ini lemah dalam pengawasan dosen, mahasiswa pun bisa saja lalai dalam pengerjaannya, maka dibutuhkanlah kemauan yang tinggi untuk mengikuti PJJ. Terakhir, menjadikan banyak media sebagai referensi untuk pembelajaran sehingga tidak terpaku pada satu pembahasan saja.

Berusaha jadi Wirausaha!


Berusaha jadi Wirausaha!
Oleh Achmad Faisal A
Original post was on 21 Oktober 2012

Nama saya Achmad Faisal Aini. Dilingkungan rumah, saya lebih dikenal dengan panggilan Isal, tapi diluar rumah orang-orang mengenal saya dengan sebutan Ical. Ada lagi panggilan di Hima (Himpunan Mahasiswa) saya dikampus yang dulu dengan sebutan Jojo, ah… tapi sepertinya bakalan menghabiskan banyak space kalo hanya berkutat di nama saja. Saya adalah satu dari puluhan orang yang beruntung bisa bersekolah di ITB, salah satu kampus terbaik di dunia dengan jurusan yang bisa dikatakan ‘Wow!’, iya benar sekali! ITB feat. Seamolec proudly present: D4 Kewirausahaan!
Mungkin bisa disebut ‘banting stir’, dulunya ambil major Bahasa Inggris sekarang harus belajar berwirausaha. Memang, mungkin ada beberapa mata kuliah yang bisa dikatakan terbalik. Misalnya saya mendapatkan mata kuliah Kewirausahaan sewaktu masih kuliah di Politeknik Negeri Bandung (Polban) dulu, tapi saya malah akan mendapatkan kuliah English for Business di Matrikulasi.
‘Cupu’ adalah istilah gamer yang mungkin bisa mendeskripsikan saya yang ada di jurusan ini sekarang. Kenapa? Menjalankan suatu bisnis saja saya belum pernah, jualan? apalagi. Dulu sempat mencoba menjualkan beberapa alat seperti pulpen, jaket, baju, dan lain-lain saja tidak sukses. Entah karena memang tidak berbakat atau belum ber-skill waktu itu. Sampai saat itu datang, saya harus dihadapkan dengan ini semua. Ingat betul dengan kata-kata mentor saat outbound di ITB, mentor kami yang bernama Bapak Stanley berkata kalau sudah tenggelam dilautan luas, kita harus berenang sampai ujung kalau mau menemukan daratan, dan kalo enggak yaa akan tenggelam dengan gaya batu dan akhirnya mati disitu.
Disaat orang-orang terlelap didalam Bus yang akan mengantarkan kami ke Lebak Bulus, saya sempatkan menulis pengalaman saya selama outbound ini sebelum matrikulasi dimulai.

OUTBOUND DAY 1
Enggak pernah terpikirkan kalau yang namanya outbound itu bakalan ada di 1 ruangan kecil karena emang setau saya diluar. Saya yang masih polos dan banyak enggak tau soal berwirausaha akhirnya di bukakan ‘mata batin’nya setelah mendengarkan presentasi dan ‘komat, kamit’ semangatnya Bapak Stanley, yang menjadi mentor kami diacara outbound ITB ini. Honestly, saya memang merasa tergerak dan semangat yang awalnya masih ragu untuk meneruskan perkuliahan dan bisnis nantinya.
Menjual pulpen seharga langit? Apalagi ini? ‘Apa orang-orang bakalan mau beli?’ dalam hati berbisik seperti itu. Waktu disuruh mengacungkan tangan saja untuk yang tidak yakin untuk melakukan hal tersbeut pun saya melakukannya, jujur saja saya tidak percaya pulpen yang harganya Rp.1.500 itu bisa menjadi Rp.100.000 bahkan Rp.1.000.000!
Dengan modal keyakinan teguh dan contoh nyata dari mendirikan banyak paku diatas satu paku tanpa menggunakan perekat dan lain-lain sudah cukup membuktikan bahwa kalimat ‘impossible is nothing’ itu benar-benar ada. Kami itu pun jadi saksi kalau saya dan kelompok Kerbau akan melakukan yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Tim Kerbau
Awalnya sih memang ditolak mentah-mentah dengan berbagai jenis alasan yang jelas-jelas tidak mempercayai kalau pulpen biasa itu dihargai sebanyak satu buah jaket branded. Kami pun merasa down dan bingung harus apa dan seperti apa rencenananya sampai kami mencoba untuk meyakinkan calon pelanggan kami yang sepertinya seorang Dosen. Setelah melakukan communication skill kami pun berhasil menarik perhatian Dosen tersebut untuk beli buku yang juga kami jual selain pulpen. Bedanya, harga buku ini lebih mahal sekitar Rp.300.000. Terjual! 1 buku dari 10 itu pun tinggal 9 dan kami pun terus berusaha menerapkan cara yang sama dengan sentuhan inovasi untuk ‘menggaet’ hati pelanggan untuk membeli barang-barang kami’. Alhamdulillahnya, saya dan kelompok Kerbau ada di posisi ke-2 yang terbanyak mendapakan penghasilan atas penjualan buku dan pulpen itu.

OUTBOUND DAY 2
“Kamu korupsi 15 menit!” adalah kalimat pembuka yang diucapkan Bapak Stanley pada hari outbound ke-2. Telat 15 menit karena memang saya pulang tengah malam pada saat itu dan harus kembali ke ITB pada pukul 6:00 WIB tepat. Ini juga mungkin suatu pembelajaran bahwa kalau telat dalam menghadiri suat acara maka secara otomatis kitapun menjadi seorang koruptor, hanya saja korupsi waktu yang sama-sama merugikan diri kita sendiri dan orang lain.
Enggak beda jauh dengan hari ke-1, di outbound ke 2 ini juga kami masih harus menghabiskan stock buku dan pulpen yang kami punya untuk mendapatkan keuntungan bersih yang nantinya akan balik juga ke rekening-rekening kami sebagai biaya tambahan untuk bayar kuliah. Kebetulan, saat itu adalah waktunya anak-anak S2 dan S3 ITB wisuda. Pasar kami pun terfokus pada orang-orang disana dan alhamdulillahnya, saya dan kelompok Kerbau berhasil meraup untung yang cukup besar. Saat berakhirnya acara pun, kelompok kami masih dibawah Matahari dan Harimau. Harimau sangat pesat sekali perkembangannya, dari outbound ke-2 itu mereka sudah bisa meraih keuntungan kurang lebih Rp.1.000.000. Kami pun ada diposisi ke-3 saat outbound yang hanya berlangsung 2 jam untuk sesi penjualan sisa stock buku dan pulpen yang kami punya.
Tapi, pada akhirnya, kelompok kami berhak atas penjualan terbanyak pertama, mengalahkan saingan terberat Kerbau, yaitu Matahari yang unggul bintang di papan achievement board. Di achievement board itu sendiri berisi banyaknya bintang dari setiap kelompok yang ada. Setiap penjualan, games, dan keaktifan mahasiswa makan akan mendapatkan 1-5 bintang tergantung apa yang dilakukan. Saat itu memang, kelompok Matahari yang memimpin dan menjadi juara karena jumlah bintang mereka yang lebih banyak dari kelompok kami.
Second Place
Mengejar matahari pun kian terasa sulit ketika Kerbau sudah tertinggal 5 bintang, dan pada akhirnya merekalah yang juara dengan total bintang yang banyak, hanya saja dalam hal penjualan buku dan pensil kelompok saya lebih banyak dibanding Matahari. Tapi, tidak jadi masalah sih menang atau kalah toh yang diambil kan ilmunya. Seru, susah dan senang selalu bersama dan pengalaman ini yang akan selalu hidup dalam ingatan saya dan Kerbau.

Tugas Penjualan di Weekend Kami
Memang sungguh mengejutkan ketika Outbound pada Jumat yang harusnya selesai harus dilanjutkan dengan menjual barang-barang lagi pada Weekend. Yaa, jujur sih agak berat juga menjalankannya karena saya belum mempersiapkan apa-apa untuk Matrikulasi nanti Senin. Bahkan cuci baju, setrika, belanja peralatan dan pencarian kost. Tapi ya bagaimana lagi, namanya tugas mau enggak mau, suka enggak suka harus kami kerjakan dengan sepenuh hati. Setelah berunding karena kami berpencar, ada yang sudah di Tanggerang, di Bogor, dan yang masih di Bandung termasuk saya, diputuskan lah kami akan menjual barang yang bisa kami jual dengan modal yang diberikan dimasing-masing daerah. Kebetulan tim di Bandung masih ada tiga orang, kami pun memanfaatkan peluang bisnis kami di Car Free Day (CFD) Dago, Bandung sebagai lahan pasar kami.
Tim Bandung
Penjualan air mineral pun dilakukan dari pagi hingga pagi menjelang siang. Berteriak ‘Aqua.. Aqua.. Aqua..!” untuk berjulan seperti itu adalah kali pertamanya dalam hidup saya selama 20 tahun hidup. Iya enggak ada salahnya juga sih, ternyata asik juga melakukan hal seperti itu. Apalagi level keasikan saya meningkat drastic kalau ada konsumen yang mau membeli air mineral itu. Jujur aja yang bikin berat menjalankan tugas hari itu bukan menjualnya, tapi angkat dus aquanya itu loh. Udah beberapa hari ini otot tangan saya sakit karena membawa itu air mineral satu dus.
Finally! Sisa air mineral itu pun hanya 6 botol saja, dengan modal dan keuntungan sudah ditangan, usaha yang kami lakukan disana tidak terasa percuma. Bahkan saat evaluasi saya dan tim Bandung mendapatkan ide baru untuk invoasi penjualan air mineral berikutnya!