Berusaha
jadi Wirausaha!
Oleh Achmad Faisal A
Original post was on 21 Oktober 2012
Nama saya
Achmad Faisal Aini. Dilingkungan rumah, saya lebih dikenal dengan panggilan
Isal, tapi diluar rumah orang-orang mengenal saya dengan sebutan Ical. Ada lagi
panggilan di Hima (Himpunan Mahasiswa) saya dikampus yang dulu dengan sebutan
Jojo, ah… tapi sepertinya bakalan menghabiskan banyak space kalo hanya berkutat di nama saja. Saya adalah satu dari
puluhan orang yang beruntung bisa bersekolah di ITB, salah satu kampus terbaik di
dunia dengan jurusan yang bisa dikatakan ‘Wow!’, iya benar sekali! ITB feat.
Seamolec proudly present: D4
Kewirausahaan!
Mungkin bisa disebut ‘banting stir’, dulunya ambil major Bahasa Inggris sekarang harus belajar berwirausaha. Memang, mungkin ada beberapa mata kuliah yang bisa dikatakan terbalik. Misalnya saya mendapatkan mata kuliah Kewirausahaan sewaktu masih kuliah di Politeknik Negeri Bandung (Polban) dulu, tapi saya malah akan mendapatkan kuliah English for Business di Matrikulasi.
Mungkin bisa disebut ‘banting stir’, dulunya ambil major Bahasa Inggris sekarang harus belajar berwirausaha. Memang, mungkin ada beberapa mata kuliah yang bisa dikatakan terbalik. Misalnya saya mendapatkan mata kuliah Kewirausahaan sewaktu masih kuliah di Politeknik Negeri Bandung (Polban) dulu, tapi saya malah akan mendapatkan kuliah English for Business di Matrikulasi.
‘Cupu’ adalah istilah gamer yang mungkin bisa mendeskripsikan saya yang ada di jurusan
ini sekarang. Kenapa? Menjalankan suatu bisnis saja saya belum pernah, jualan?
apalagi. Dulu sempat mencoba menjualkan beberapa alat seperti pulpen, jaket,
baju, dan lain-lain saja tidak sukses. Entah karena memang tidak berbakat atau
belum ber-skill waktu itu. Sampai
saat itu datang, saya harus dihadapkan dengan ini semua. Ingat betul dengan
kata-kata mentor saat outbound di
ITB, mentor kami yang bernama Bapak Stanley berkata kalau sudah tenggelam
dilautan luas, kita harus berenang sampai ujung kalau mau menemukan daratan,
dan kalo enggak yaa akan tenggelam dengan gaya batu dan akhirnya mati disitu.
Disaat orang-orang terlelap didalam Bus yang akan
mengantarkan kami ke Lebak Bulus, saya sempatkan menulis pengalaman saya selama
outbound ini sebelum matrikulasi dimulai.
OUTBOUND
DAY 1
Enggak pernah terpikirkan kalau yang namanya outbound itu bakalan ada di 1 ruangan
kecil karena emang setau saya diluar. Saya yang masih polos dan banyak enggak
tau soal berwirausaha akhirnya di bukakan ‘mata batin’nya setelah mendengarkan
presentasi dan ‘komat, kamit’ semangatnya Bapak Stanley, yang menjadi mentor
kami diacara outbound ITB ini. Honestly,
saya memang merasa tergerak dan semangat yang awalnya masih ragu untuk
meneruskan perkuliahan dan bisnis nantinya.
Menjual pulpen seharga langit? Apalagi ini? ‘Apa orang-orang bakalan mau beli?’ dalam hati berbisik seperti itu. Waktu disuruh mengacungkan tangan saja untuk yang tidak yakin untuk melakukan hal tersbeut pun saya melakukannya, jujur saja saya tidak percaya pulpen yang harganya Rp.1.500 itu bisa menjadi Rp.100.000 bahkan Rp.1.000.000!
Menjual pulpen seharga langit? Apalagi ini? ‘Apa orang-orang bakalan mau beli?’ dalam hati berbisik seperti itu. Waktu disuruh mengacungkan tangan saja untuk yang tidak yakin untuk melakukan hal tersbeut pun saya melakukannya, jujur saja saya tidak percaya pulpen yang harganya Rp.1.500 itu bisa menjadi Rp.100.000 bahkan Rp.1.000.000!
Dengan modal keyakinan teguh dan contoh nyata dari
mendirikan banyak paku diatas satu paku tanpa menggunakan perekat dan lain-lain
sudah cukup membuktikan bahwa kalimat
‘impossible is nothing’ itu benar-benar ada. Kami itu pun jadi saksi kalau
saya dan kelompok Kerbau akan melakukan yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Tim Kerbau
Awalnya sih memang ditolak mentah-mentah dengan berbagai
jenis alasan yang jelas-jelas tidak mempercayai kalau pulpen biasa itu dihargai
sebanyak satu buah jaket branded.
Kami pun merasa down dan bingung
harus apa dan seperti apa rencenananya sampai kami mencoba untuk meyakinkan
calon pelanggan kami yang sepertinya seorang Dosen. Setelah melakukan communication skill kami pun berhasil
menarik perhatian Dosen tersebut untuk beli buku yang juga kami jual selain
pulpen. Bedanya, harga buku ini lebih mahal sekitar Rp.300.000. Terjual! 1 buku
dari 10 itu pun tinggal 9 dan kami pun terus berusaha menerapkan cara yang sama
dengan sentuhan inovasi untuk ‘menggaet’ hati pelanggan untuk membeli
barang-barang kami’. Alhamdulillahnya, saya dan kelompok Kerbau ada di posisi
ke-2 yang terbanyak mendapakan penghasilan atas penjualan buku dan pulpen itu.
OUTBOUND
DAY 2
“Kamu korupsi 15 menit!” adalah kalimat pembuka yang
diucapkan Bapak Stanley pada hari outbound ke-2. Telat 15 menit karena memang
saya pulang tengah malam pada saat itu dan harus kembali ke ITB pada pukul 6:00
WIB tepat. Ini juga mungkin suatu pembelajaran bahwa kalau telat dalam
menghadiri suat acara maka secara otomatis kitapun menjadi seorang koruptor,
hanya saja korupsi waktu yang sama-sama merugikan diri kita sendiri dan orang
lain.
Enggak beda jauh dengan hari ke-1, di outbound ke 2
ini juga kami masih harus menghabiskan stock
buku dan pulpen yang kami punya untuk mendapatkan keuntungan bersih yang
nantinya akan balik juga ke rekening-rekening kami sebagai biaya tambahan untuk
bayar kuliah. Kebetulan, saat itu adalah waktunya anak-anak S2 dan S3 ITB
wisuda. Pasar kami pun terfokus pada orang-orang disana dan alhamdulillahnya,
saya dan kelompok Kerbau berhasil meraup untung yang cukup besar. Saat
berakhirnya acara pun, kelompok kami masih dibawah Matahari dan Harimau.
Harimau sangat pesat sekali perkembangannya, dari outbound ke-2 itu mereka
sudah bisa meraih keuntungan kurang lebih Rp.1.000.000. Kami pun ada diposisi
ke-3 saat outbound yang hanya berlangsung 2 jam untuk sesi penjualan sisa stock buku dan pulpen yang kami punya.
Tapi, pada akhirnya, kelompok kami berhak atas
penjualan terbanyak pertama, mengalahkan saingan terberat Kerbau, yaitu
Matahari yang unggul bintang di papan achievement
board. Di achievement board itu sendiri berisi banyaknya bintang dari
setiap kelompok yang ada. Setiap penjualan, games, dan keaktifan mahasiswa
makan akan mendapatkan 1-5 bintang tergantung apa yang dilakukan. Saat itu
memang, kelompok Matahari yang memimpin dan menjadi juara karena jumlah bintang
mereka yang lebih banyak dari kelompok kami.
Second Place
Mengejar matahari pun kian terasa sulit ketika Kerbau
sudah tertinggal 5 bintang, dan pada akhirnya merekalah yang juara dengan total
bintang yang banyak, hanya saja dalam hal penjualan buku dan pensil kelompok
saya lebih banyak dibanding Matahari. Tapi, tidak jadi masalah sih menang atau
kalah toh yang diambil kan ilmunya. Seru, susah dan senang selalu bersama dan
pengalaman ini yang akan selalu hidup dalam ingatan saya dan Kerbau.
Tugas
Penjualan di Weekend Kami
Memang sungguh mengejutkan ketika Outbound pada Jumat
yang harusnya selesai harus dilanjutkan dengan menjual barang-barang lagi pada
Weekend. Yaa, jujur sih agak berat juga menjalankannya karena saya belum
mempersiapkan apa-apa untuk Matrikulasi nanti Senin. Bahkan cuci baju, setrika,
belanja peralatan dan pencarian kost. Tapi ya bagaimana lagi, namanya tugas mau
enggak mau, suka enggak suka harus kami kerjakan dengan sepenuh hati. Setelah
berunding karena kami berpencar, ada yang sudah di Tanggerang, di Bogor, dan
yang masih di Bandung termasuk saya, diputuskan lah kami akan menjual barang
yang bisa kami jual dengan modal yang diberikan dimasing-masing daerah.
Kebetulan tim di Bandung masih ada tiga orang, kami pun memanfaatkan peluang
bisnis kami di Car Free Day (CFD) Dago, Bandung sebagai lahan pasar kami.
Tim
Bandung
Penjualan air mineral pun dilakukan dari pagi hingga
pagi menjelang siang. Berteriak ‘Aqua.. Aqua.. Aqua..!” untuk berjulan seperti
itu adalah kali pertamanya dalam hidup saya selama 20 tahun hidup. Iya enggak
ada salahnya juga sih, ternyata asik juga melakukan hal seperti itu. Apalagi
level keasikan saya meningkat drastic kalau ada konsumen yang mau membeli air
mineral itu. Jujur aja yang bikin berat menjalankan tugas hari itu bukan
menjualnya, tapi angkat dus aquanya itu loh. Udah beberapa hari ini otot tangan
saya sakit karena membawa itu air mineral satu dus.
Finally! Sisa air mineral itu pun hanya 6 botol saja,
dengan modal dan keuntungan sudah ditangan, usaha yang kami lakukan disana
tidak terasa percuma. Bahkan saat evaluasi saya dan tim Bandung mendapatkan ide
baru untuk invoasi penjualan air mineral berikutnya!
.jpg)

No comments:
Post a Comment